perkmbngan AUD

Tahap Perkembangan Anak Usia Dini

Posted By Admin
Selasa, 13 Maret, 2012, 16:30
Anak usia dini merupakan generasi penerus bangsa yang perlu mendapatkan perhatian serius. Sejak lahir, anak memiliki berbagai potensi yang dikaruniakan Tuhan.
Potensi tersebut perlu dirangsang dan difasilitasi agar dapat berkembang dengan optimal. Banyak ahli menyatakan bahwa masa anak usia dini merupakan masa peka dan amat penting bagi perkembangan anak. Stimulasi terhadap anak yang dilakukan oleh orangtua maupun orang lain disekitar lingkungan anak akan membekas kuat dan tahan lama. Kesalahan sedikit dalam memberikan stimulasi akan berdampak negatif jangka panjang yang sulit diperbaiki. Roseau (Slamet Suyanto, 2003: 2-3) menggambarkan bahwa: masa peka tersebut ibarat saat yang tepat bagi seorang tukang besi untuk menempa besi yang dipanaskan. Para penempa pasti tahu benar kapan besi harus ditempa. Terlalu awal ditempa, besi sulit dibentuk dan dicetak. Sebaliknya apabila terlambat menempa maka besi akan hancur. Jadi saat yang paling baik bagi seorang anak untuk memperoleh evaluasi pendidikan yang tepat adalah saat usia dini.
 
Senada dengan hal tersebut, Santrock & Yussen (Solehuddin, 1997: 2) memandang usia prasekolah atau balita sebagai fase yang sangat fundamental bagi perkembangan individu. Lebih lanjut mereka menyatakan bahwa masa usia balita sebagai masa terbentuknya kepribadian dasar individu dan pada masa ini penuh dengan kejadian-kejadian penting dan unik (a higly eventful and unique period of life) peletakkan dasar kehidupan seseorang dimasa dewasa yntuk Menemukan Makna Hidup.
Pada masa usia dini, anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental sangat pesat. Sel-sel tubuh anak tumbuh dan berkembang dengan cepat. Pada tahap awal perkembangan janin sampai anak lahir, terjadi perkembangan sel-sel otak luar biasa. Kemudian setelah lahir terjadi proses mielinasi dari sel-sel syaraf dan pembentukan hubungan antar sel syaraf. Makanan bergizi dan seimbang serta stimulasi terhadap anak sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan otak anak. Oleh karena itu pada masa usia dini ini (0-6 tahun) sering disebut dengan masa emas atau golden age.
Stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak pada tahap ini hendaknya dapat dilakukan pada aspek-aspek perkembangan anak, baik perkembangan kognitif, perkembangan fisik atau motorik, perkembangan sosial-emosional anak, perkembangan kemampuan berbahasa dan perkembangan lainnya.
Hurlock (1978: 26) menjelaskan bahwa pada anak usia prasekolah 2-5 tahun adalah masa penting dari keseluruhan tahap perkembangan. Pada tahap ini terjadi proses peletakan dasar struktur perilaku kompleks yang dibangun sepanjang dalam Kehidupan anak. Dengan perkembangan sel-sel syaraf anak yang pesat dan stimulasi yang tepat akan menyebabkan berfungsinya mental anak untuk memahami dan mengerti kondisi lingkungannya.
Hal inilah menyebabkan anak mampu mengadakan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial di sekelilingnya. Keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak memegang peran penting dalam meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini, disamping peran lembaga pendidikan (Taman Kanak-kanak, Kelompok bermain, Taman Penitipan Anak) dan lingkungan masyarakat. Hal ini disebabkan, karena hampir 80% waktu dalam kehidupan sehari-hari anak digunakan untuk bermain, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan orang-orang dilingkungan keluarga, Bermain Adalah Dunia Belajar Anak.
Selain itu juga, perlu disadari bahwa layanan lembaga PAUD belum dapat menggantikan peran keluarga dalam pendidikan anak, tetapi hanyalah berfungsi memperkuat layanan kebutuhan anak untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Bahkan secara ekstrim dapat dikatakan jika keluarga mampu mendidik dan menstimulasi tumbuh kembang anak secara mandiri melalui kegiatan sehari-hari di rumah maupun lingkungan kesehariannya, maka mengikutsertakan anak dalam satuan PAUD bukanlah suatu keharusan.
Tetapi harus diakui pula bahwa realitas di masyarakat hanya sedikit keluarga mampu melakukan itu, untuk itulah masih tetap dibutuhkan keberadaan satuan-satuan PAUD formal maupun non formal sampai waktunya semua keluarga memiliki kemampuan tersebut, meski hal tersebut sangat tidak mungkin juga.
Peran orangtua dalam menstimulasi tumbuh kembang anak usia dini memang memiliki peran penting dalam meningkatkan perkembangan potensi anak. Akan tetapi, hal ini belum berjalan secara optimal. Hal ini disebabkan berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut, antara lain: rendahnya pengetahuan orang tua tentang pendidikan bagi anak usia dini, kurangnya kemampuan orang tua dalam menstimulasi perkembangan anak dengan berbagai strategi pengembangan potensi anak, masih adanya sebagian masyarakat hanya menggandalkan pengetahuan yang bersifat turun-temurun guna menstimulasi perkembangan anak, minimnya partisipasi atau dukungan orang lain dalam keluarga dalam stimulasi perkembangan anak karena alasan kesibukan pekerjaan dan aktivitas lain di luar rumah dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas orang tua dalam menstimulasi tumbuh kembang anak usia dini merupakan progam strategis guna membantu keluarga-keluarga di masyarakat agar mampu mendampingi anak usia sesuai dengan karakteristik dan perkembangannya.
Fase-fase Perkembangan Anak Usia Dini:
Menurut para ahli, pada usia dini terjadi beberapa periode perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan, seorang anak secara umum akan memperlihatkan ciri-ciri khusus atau karakteristik tertentu yang hampir sama. Menurut Comenius (Kartini Kartono, 1986: 34) periode perkembangan seorang anak terdiri empat tahap.
Salah satu tahap tersebut adalah tahap 0-6 tahun atau periode sekolah-ibu. Periode 0-6 tahun disebut periode sekolah ibu, karena hampir semua usaha bimbingan, perawatan, pemeliharaan, dan pendidikan anak berlangsung di dalam keluarga yang dilakukan oleh ibu. Berikut akan diuraikan tentang fase-fase perkembangan anak usia dini.
a. Anak usia 0-2 tahun
Secara umum pada masa bayi anak usia 0-2 tahun, anak mengalami perubahan yang pesat bila dibandingkan dengan yang akan dialami pada fase-fase berikutnya. Anak sudah memiliki kemampuan dan keterampilan dasar yang berupa: keterampilan lokomotor (berguling, duduk, berdiri, merangkak dan berjalan), keterampilan memegang benda, penginderaan (melihat, mencium, mendengar dan merasakan sentuhan), maupun kemampuan untuk mereaksi secara emosional dan sosial terhadap orang-orang sekelilingnya.
Segala bentuk stimulus (verbal maupun nonverbal) dari orang lain akan mendorong anak untuk belajar tentang pengalaman-pengalaman sensori dan ekspresi perasaan meskipun anak belum mampu memahami kata-kata. Menurut Monks (1992:74-75) menyatakan bahwa stimulasi verbal ternyata sangat penting untuk perkembangan bahasa. Hal ini disebabkan kualitas dan kuantitas vokalisasi seorang anak dapat bertambah dengan pemberian reinforsement verbal. Stimulasi verbal yang terusmenerus juga akan memudahkan anak untuk belajar melafalkan suara-suara dan Dapat disimpulkan bahwa anak usia dini merupakan masa yang kritis dalam sejarah perkembangan manusia. Masa anak usia dini ini terjadi pada anak usia 0-6 tahun atau sampai anak mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini atau prasekolah. Pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik dan psikis yang sangat pesat. gerakan-gerakan yang mengkomunikasikan suasana emosinya, seperti marah, cemas, tidak setuju dan lain-lain.
b. Anak usia 2-3 tahun
Pada fase ini anak sudah memiliki kemampuan untuk berjalan dan berlari. Anak juga mulai senang memanjat, meloncat, menaiki sesuatu dan lain sebagainya.
Solehuddin (1997: 38) berpendapat bahwa pada anak usia 2-3 tahun lazimnya sangat aktif mengeksplorasi benda-benda di sekitarnya. Anak memiliki kekuatan observasi yang tajam. Anak juga menyerap dan membuat perbendaharaan bahasa baru, mulai belajar tentang jumlah, membedakan antara konsep satu dengan banyak dan senang mendengarkan cerita-cerita sederhana, yang kesemuanya diwujudkan anak dalam aktivitas bermain maupun komunikasi dengan orang lain. Kemampuan anak menguasi beberapa patah kata juga mulai berkembang. Anak mulai senang dengan perckapan walaupun dalam bentuk dan kalimat yang sederhana. Selain itu juga, sikap egosentrik anak sangat menonjol. Anak belum bisa memahami persoalan-persoalan yang dihadapinya dari sudut pemikiran orang lain. Anak cenderung melakukan sesuatu menurut kemauannya sendiri tanpa memperdulikan kemauan dan kepentingan orang lain. Sebagai contoh, anak sering merebut mainan dari orang lain jika anak menginginkannya.
c. Anak usia 3-4 tahun
Secara umum, anak pada fase ini masih mengalami peningkatan dalam berperilaku motorik, sosial, berfikir fantasi maupun kemampuan mengatasi frustasi. Untuk kemampuan motorik, anak sudah menguasai semua jenis gerakan-gerakan tangan, seperti memegang benda atau boneka. Akan tetapi sifat egosentriknya masih melekat. Tingkat frustasi anak juga cenderung menurun. Hal ini disebabkan adanya peningkatan kemampuan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialaminya secara lebih aktif atau sudah ada sifat kemandirian anak. Pada usia ini anak memiliki kehidupan fantasi yang kaya dan menuntut lebih banyak kemandirian. Dengan kehidupan fantasi yang dimilikinya ini, anak akan memperlihatkan kesiapannya untuk mendengarkan cerita-cerita secara lebih lama, bahkan anak juga sudah dapat mengingatnya. Selanjutnya dengan sifat kemandirian yang dimilikinya mulai membuat anak tidak mau banyak diatur dalam kegiatankegiatannya. Pada aspek kognitif anak juga sudah mulai mengenal konsep jumlah, warna, ukuran dan lain-lain.
d. Anak usia 4-6 tahun
Ciri yang menonjol anak pada usia ini adalah anak mempunyai sifat berpetualang (adventuroussness) yang kuat. Anak banyak memperhatikan, membicarakan atau bertanya tentang apa sempat ia lihat atau didengarnya. Minatnya yang kuat untuk mengobservasi lingkungan benda-benda di sekitarnya membuat anak senang bepergian sendiri untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkugan disekitarnya sendiri. Pada perkembangan motorik, anak masih perlu aktif melakukan berbagai aktivitas. Sejalan dengan perkembangan fisiknya, anak usia ini makin berminat terhadap teman sebayanya. Anak sudah menunjukkan hubungan dan kemampuan bekerjasama dengan teman lain terutama yang memiliki kesenangan dan aktivitas yang sama. Kemampuan lain yang ditunjukkan anak adalah anak sudah mampu memahami pembicaraan dan pandangan orang lain yang disebabkan semakin meningkatnya keterampilan berkomunikasi.
Berdasarkan tahap perkembangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak usia dini merupakan masa yang kritis dalam sejarah perkembangan manusia. Masa anak usia dini ini terjadi pada anak usia 0-6 tahun atau sampai anak mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini atau prasekolah. Pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik dan psikis yang sangat pesat.

Tugas-tugas Perkembangan Anak Usia Dini


Salam hangat kepada para pendidik di rumah, di sekolah Pendidikan anak usia dini (PAUD) maupun di Taman Kanak-Kanak. Pada Artikel kali ini kita akan membahas tentang tugas yang sesuai untuk anak dalam masa perkembangannya. Sebagai pengetahuan dalam mempelajari artikel ini, anda bisa membaca artikel sebelumnya tentang "Aspek-aspek perkembangan anak usia dini" dan artkel "Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini".

Tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul dalam suatu periode tertentu dalam kehidupan individu. Tugas tersebut harus dikuasai dan diselesaikan oleh individu, sebab tugas perkembangan ini akan sangat mempengaruhi pencapaian perkembangan pada masa perkembangan berikutnya. Menurut Havighurst, jika seorang individu gagal menyelesaikan tugas perkembangan pada satu fase tertentu, maka ia akan mengalami kegagalan dalam pencapaian tugas perkembangan pada masa berikutnya.

Pada setiap masa perkembangan individu, ada berbagai tugas perkembangan yang harus dikuasai, adapun tugas perkembangan masa kanak-kanak menurut Carolyn Triyon dan J. W. Lilienthal (Hildebrand, 1986 : 45) adalah sebagai berikut :

a) Berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Anak belajar untuk berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dapat memenuhi segala kebutuhannya sendiri sesuai dengan tingkat perkembangannya di usia Taman Kanak-kanak.

b) Belajar memberi, berbagi dan memperoleh kasih sayang. Pada masa Taman Kanak-kanak ini anak belajar untuk dapat hidup dalam lingkungan yang lebih luas yang tidak hanya terbatas pada lingkungan keluarga saja, dalam masa ini anak belajar untuk dapat saling memberi dan berbagi dan belajar memperoleh kasih sayang dari sesama dalam lingkungannya.

c) Belajar bergaul dengan anak lain. Anak belajar mengembangkan kemampuannya untuk dapat bergaul dan berinteraksi dengan anak lain dalam lingkungan di luar lingkungan keluarga.

d) Mengembangkan pengendalian diri. Pada masa ini anak belajar untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Anak belajar untuk mampu mengendalikan dirinya dalam berhubungan dengan orang lain. Pada masa ini anak juga perlu menyadari bahwa apa yang dilakukannya akan menimbulkan konsekuensi yang harus dihadapinya.

e) Belajar bermacam-macam peran orang dalam masyarakat. Anak belajar bahwa dalam kehidupan bermasyarakat ada berbagai jenis pekerjaan yang dapat dilakukan yang dapat menghasilkan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya dan dapat menghasilkan jasa bagi orang lain. Contoh, seorang dokter mengobati orang sakit, guru mengajar anak-anak di kelas, pak polisi mengatur lalu lintas, dan lain sebagainya.

f) Belajar untuk mengenal tubuh masing-masing. Pada masa ini anak perlu mengetahui berbagai anggota tubuhnya, apa fungsinya dan bagaimana penggunaannya. Contoh, mulut untuk makan dan berbicara, telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan sebagainya.

g) Belajar menguasai ketrampilan motorik halus dan kasar. Anak belajar mengkoordinasikan otot-otot yang ada pada tubuhnya, baik otot kasar maupun otot halus. Kegiatan yang memerlukan koordinasi otot kasar diantaranya berlari, melompat, menendang, menangkap bola dan sebagainya. Sedangkan kegiatan yang memerlukan koordinasi otot halus adalah pekerjaan melipat, menggambar, meronce dan sebagainya.

h) Belajar mengenal lingkungan fisik dan mengendalikan. Pada masa ini diharapkan anak mampu mengenal benda-benda yang ada di lingkungan, dan dapat menggunakannya secara tepat. Contoh, anak belajar mengenal ciri-ciri benda berdasarkan ukuran, bentuk, dan warnanya. Selain dari itu, anak dapat membandingkan satu benda dengan benda lain berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki benda tersebut.

i) Belajar menguasai kata-kata baru untuk memahami anak/orang lain. Anak belajar menguasai berbagai kata-kata baru baik yang berkaitan dengan benda-benda yang ada di sekitarnya, maupun berinteraksi dengan lingkungannya.
Contoh, anak dapat menyebutkan nama suatu benda, atau mengajak anak lain untuk bermain, dan sebagainya.

j) Mengembangkan perasaan positif dalam berhubungan dengan lingkungan. Pada masa ini anak belajar mengembangkan perasaan kasih sayang terhadap apa-apa yang ada dalam lingkungan, seperti pada teman sebaya, saudara, binatang kesayangan atau pada benda-benda yang dimilikinya.

Pada masa pendidikan anak usia dini (PAUD) maupun masa taman kanak-kanak anak akan cenderung melakukan pembelajaran seperti yang telah disebutkan diatas. Untuk itulah sebagai pendidik anda harus bisa menyesuaikan tugas-tugas dalam periode perkembangan anak ini, hal itu dimaksudkan agar proses pembelajaran anak bisa berjalan efektif dan efisien.

Pada dasarnya anak selalu mengalami perkembangan. Perkembangan akan menjadi media bagi anak untuk belajar dan mengenal lingkungannya. Pada artikel selanjutnya kita akan membahas tentang perkembangan kognitif yang terjadi pada anak di masa prasekolah


July 22nd, 2011
Oleh : Dr. Anggani Sudono
Bermain adalah pengalaman langsung yang efektif dilakukan anak usia dini dengan atau tanpa alat permainan, (Olson, Bruner, Heinich et al, 1996). Bagi anak, ini merupakan kesempatan yang menyenangkan. Ia melakukannya dengan sukarela. Ketika bermain anak bereksplorasi, menemukan sendiri hal yang sangat membanggakannya, bermain merupakan kegiatan spontan, tanpa beban, ketika bermain anak mengembangkan diri dalam berbagai perkembangan emosi, sosialnya, fisik dan intelektualnya. (Dockett, 1996)
Tahapan Bermain Anak Usia Dini
Terdapat sebelas tahapan bermain bagi anak usia dini, masing–masing :
  1. Sensorimotor. Bermain dengan panca indranya dan anggota badan;
  2. Bermain fungsional. Bermain dengan menggunakan anggota tubuhnya;
  3. Bermain pengamat/onlooker play. Anak tidak memainkan sendiri, melainkan menjadi pengamat saja. Dengan melihat anak lain bermain, ia sudah puas;
  4. Bermain pasif. Melakukan kegiatan bermain tanpa gerakan aktif seperti menonton tv, mendengarkan musik;
  5. Bermain aktif. Melakukan kegiatan bermain dengan keaktifan tubuhnya;
  6. Bermain soliter. Bermain sendiri tanpa membutuhkan teman;
  7. Bermain paralel. Bermain berdekatan dengan anak lain, namun tidak ada interaksi keduanya;
  8. Bermain sosial. Bermain bersama teman dengan interaksi dan sosialisasi;
  9. Bermain kooperatif. Bermain bersama teman dengan peran, tugas masing–masing;
  10. Bermain peran. Bermain memerankan berbagai profesi, atau benda, terjadinya megakomunikatif, dimana anak mampu berbicara melebihi kemampuannya dengan menggambarkan situasi yang sebenarnya; dan
  11. Bermain simbolik. Bermain dengan simbol–simbol berupa berbagai pesan.
(Piaget, 1962; Parten, 1932; Smilanski, 1995)
Analisis Kebutuhan Bermain Pada Anak Usia Dini
Bermain, adalah alamiah bagi anak. Ketika bermain anak merasa nyaman, tidak ada beban. Anak itu selalu aktif, tidak pernah kehabisan enerjinya. Bermain terjadi tanpa harus bertujuan khusus. Anak berekplorasi secara aktif. Kesempatan menemukan sendiri terjadi secara spontan. Anak bebas berimajinasi, kreativitas tumbuh dan muncul tanpa disengaja. Alat permainan yang dimainkan dapat berfungsi seperti apa saja pemahamannya. Gelas yang ia pegang dapat dianggap sebagai kapal terbang. Bermain bagi anak seperti pelampiasan kemarahan. Bisa jadi terapi bagi anak yang bermasalah.
Pengulangan–pengulangan yang dilakukan membuat ia percaya diri. Dalam memainkan balok bisa episodik ada tahapan mula, tengah dan akhir permainan. Dengan bermain anak dapat menyembunyikan ketidaknyamanannya di tempat baru.
Persyaratan Bermain Anak Usia Dini
Syarat utama bagi anak usia dini adalah kesempatan dan waktu bermain yang cukup. Lingkungan dan suasana yang mengundang anak untuk bermain, sangat menentukan. Perasaan sangat berperan, bahwa ia diperkenankan bermain, tidak ada salah atau benar, tanpa ada rasa takut.
Ada beberapa macam suasana pembelajaran bermain yang dapat diciptakan oleh pendidik, pengasuh, petugas atau pendamping dengan sadar atau tidak sadar yang menghasilkan perilaku tertentu pada anak. (Homann, Weikart, 1995)
Pertama bermain dalam suasana bebas, apa saja dapat ia lakukan. Anak memilih sesuai minat, ia bisa menentukan kurikulumnya sendiri. Gurunya mempersiapkan segala alat permainan yang mungkin menjadi pilihan anak. Guru akan membantu bila ia diminta anak. Disini anak yang biasa mandiri akan mencuat, ia dapat menentukan perkembangan percepatan kemampuannya. Di lain pihak anak yang mendapat pola asuh ketergantungan akan merasa hilang, tidak tahu apa yang akan dilakukan, yang berakibat anak frustasi dan tidak betah dan nyaman di tempat belajarnya.
Kedua, bermain dalam suasana terpimpin. Guru menentukan kegiatannya, guru merancang sesuai kurikulum yang dibuatnya. Anak mengikuti saja perintah dan apa yang dirancang guru. Disini anak akan dilatih, dan di drill menjadi penurut, untuk menyelesaikan tugasnya.
Ketiga, kesempatan bermain dengan beragam alat permainan dan kegiatan bermain sesuai minat anak dengan diberi dukungan/ support guru. Kurikulum ditentukan anak sendiri. Anak memilih kegiatannya dan mencipta apa yang akan ia lakukan. Guru melihat pilihan anak dan mendukung ide anak, dengan menawarkan sekiranya ada kebutuhan untuk menuntaskan idenya. Alat permainan dipersiapkan dengan memperhitungkan beragam minat anak. Dapat mendukung intelegensi jamak anak didiknya. (Gardner, 1983)
Jenis–jenis Permainan Anak Usia Dini
Jenis alat permainan anak usia dini tidak terhingga banyaknya. Karena apa saja dapat menjadi alat permainan baginya. Selembar kerta pun bisa jadi mainan bagi anak usia dini. (Sudono, 2002)
Jenisnya dapat ditentukan dengan melihat tujuan perkembangan anak yang mana yang akan ditingkatkan. Segi emosi-sosialnya, yaitu empati, berbagi perasaan, fisik yaitu motorik kasar atau halusnya atau mau mengembangkan kognitifnya? Yang juga dapat diperluas ragamnya, yakni mengembangkan kemampuan matematika, bahasa, kreativitas, ipa atau sains.
Ada juga yang menyebutkan jenis sesuai kegunaannya, seperti semua alat permainan untuk membangun. Maka semua bentuk balok, seperti balok kecil, balok besar, balok kardus, balok kubus, balok susun dan tongkat–tongkat, lidi, korek api, kardus-kardus semua digolongkan alat permainan untuk membangun.
Semua alat permainan dapat menjadi multi guna. Ketika membangun, perkembangan kognitif anak melejit. Kemampuan berbahasa anak meningkat. Penalaran dengan menyebutkan konsep bentuk–bentuk, matematis, kreativitasnya muncul. Anak bermain bersama teman berarti perkembangan sosialnya tumbuh. Pula, segi fisik seperti motorik halusnya ketika menyusun, motorik kasar lebih berkembang ketika anak mengangkut balok yang berat-berat.
Disinilah peran pendidik, pengasuh, petugas, pendamping untuk berinteraksi, memanfaatkan waktu yang tepat, melihat apa yang sudah atau belum diketahui anak.
Merancang Alat Bermain
Merancang dan mencipta alat permainan membutuhkan pengetahuan yang memenuhi persyaratan. Misalnya bila dibuat dari kayu, serat kayu dipilih yang halus agar tidak menyusupi (nlusupi, jw) tangan anak. Bila ada sudut-sudut maka perlu dipertumpul, agar aman dan tidak membuat anak cedera bila ada yang terpukul.
Bila menggunakan warna maka harus menggunakan pewarna non-toxid, artinya tidak mengandung bahan kimia yang meracuni anak. Banyak anak yang memiliki kebiasaan memasukkan benda ke mulut, atau mengenal lingkungan lewat mulut.
Pembuatan alat permainan yang menyangkut ukuran-ukuran harus akurat. Sehingga anak dapat menemukan konsep persamaan, perbedaan, sama panjang, sama berat dan sebagainya.
Keamanan dalam pembuatan permainan perlu dipikirkan. Alat permainan yang terbuat dari bahan kain cukup aman. Pencuciannya mudah apabila isinya bukan kapuk. Mata boneka atau binatang dari kain lebih aman dibordir, karena tidak bisa digigit.  Alat permainan yang cocok bagi anak usia dini 0-3 tahun adalah permainan ini.
Pembuatan beragam puzzle harus memperhitungkan keterampilan memasang kembali dari anak-anak. Potongan puzzle bervariasi, dari potongan satu sampai tiga puluh yang lebih kompleks, sehingga  peruntukan puzzle bervariasi. Ada yang menantang ada yang terlalu mudah. Selalu dipikirkan agar kesemuanya berimbang.
Anak memiliki rasa estetika. Janganlah alat permainan yang tersedia atau buatan sendiri terkesan “rencek” tidak bermutu, tidak rapi dan tidak kuat pula. Alat seperti itu akan tidak terpilih oleh anak. Tidak berarti bahwa pembuatan alat mainan sendiri perlu dihindari, namun perlu diingat hal-hal yang terpenting seperti yang sudah disebutkan di atas.
Sumber : Buletin PADU, Jurnal Ilmiah Anak Usia Dini, Edisi Khusus 2004
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, KemDikNas.

Pendahuluan
Media masa banyak menyebutkan atau memberitakan perbuatan-perbuatan yang banyak membuat kita menarik napas dalam-dalam, pelecehan seksual (bahkan pemerkosaan) terhadap balita, konsumsi Narkoba atau perbuatan kekerasan lain yang berorientasi kriminal yang banyak dilakukan remaja belasan tahun. Para remaja pada masa-masa kini telah melakukan tindakan-tindakan yang bagi kaum dewasa tindakan tersebut dianggap sebagai perbuatan kriminal. Perbuatan kekerasan ini dikategorikan sebagai deliquency (delinkuen, Ind.) yang didefinisikan oleh Prof. Fuad Hasan sebagai perbuatan asosial yang dilakukan oleh anak remaja yang apabila perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, perbuatan tersebut disebut sebagai tindak kejahatan.
May dalam bukunya crime and the social structure (1983) menganggap bahwa delinkuen itu merupakan satu manifestasi dari kebudayaan remaja. Karena para remaja pelaku delinkuen ini berada pada periode transisi dimana perilaku asosialnya berhubungan dengan pergolakan hati, dan dalam kelanjutannya dianggap sebagai proses perkembangan pribadi seorang anak dalam fase perkembangannya. Sebagai sebuah proses perkembangan maka dalam internalisasinya mengandung berbagai macam aspek; kedewasaan sosial, penerimaan satu identitas kedewasaan, adanya ambisi materiil yang tidak terkendali dan kurangnya disiplin diri.
Produk Kondisi Masyarakat
Delinkuen itu sendiri sebenarnya tidak berdiri sendiri atau lepas dari pengaruh lingkungan tetapi lebih jauh delinkuen merupakan produk dari kondisi masyarakatnya (Social Life Product) dengan segala pergolakan sosial yang ada didalamnya, kemudian bermetamorfosis menjadi penyakit masyarakat (patologi sosial). Hal ini melahirkan satu bentuk pertanyaan mengapa pergolakan sosial masyarakat mempunyai efek yang berpengaruh besar dalam memainkan peranannya menstimuli perilaku delinkuen para remaja? DR. Kartini Kartono mencoba memberi jawaban dengan menjelaskan bahwa para remaja cenderung terpengaruh stimulasi sosial yang jahat.
Stimulasi-stimulasi sosial ini dapat berupa; lingkungan kelas sosial, ekonomi rendah, alkoholisme dan budaya kekerasan dalam masyarakat, ketidakstabilan politik dan pergolakan sosial lainnya. Disamping hal ini, hal lain yang mempengaruhinya adalah pendidikan massal yang tidak menekankan watak dan kepribadian anak, kurangnya usaha orang tua dan orang dewasa didalam menekankan moralitas dan keyakinan beragama serta kurang ditumbuhkannya tanggung jawab sosial pada anak remaja, meskipun, motif-motif pribadi dari kejiwaan anak juga menunjang delinkuen para remaja, seperti; memuaskan kecendrungan keserakahan, meningkatnya agresifitas dan dorongan seksual, sifat manja dan mental yang lemah, hasrat berkumpul dengan peer (teman Sebaya), kecenderungan anak berimitasi, pembawaan patologis atau abnormal dari anak itu sendiri, konflik batin dan pelarian diri yang berujung pada pembelan diri yang irasional. ( DR. Kartini Kartono: Patologi sosial dan kenakalan remaja, 2002)
Aspek Hukum Remaja Delinkuen
Delinkuen ini dalam tataran fakta dibagi menjadi dua jenis; delinkuen sosial dan delinkuen Individual, dipandang sosiologis apabila remaja memusuhi konteks kemasyarakatan. Dimana para remaja tidak merasa bersalah apabila perbuatan yang dilakukannya tidak merugikan kelompok atau dirinya meskipun menimbulkan keresahan pada masyarakat, sedang dalam perspektif individual para remaja yang delinkuen memusuhi semua orang, baik itu orang tua, PR atau gurunya.
Masyarakat akhirnya menghadapi masalah yang dilematik dalam menimbang dan memutuskan satu perbuatan anak, apakah dikategorikan sebagai tindak kriminal atau disimpulkan sebagai delinkuen. Tetapi untuk menentukannya faktor hukum pidana sebagai hukum positif mutlak diperhatikan dan pendapat para pakar hukum anglo saxon yang menentukan delinkuensi ditinjau dari hukum pidana dapat juga dijadikan acuan. Para ahli ini memandang bahwa delinkuen adalah perbuatan dan tingkah laku yang merupakan perbuatan perkosaan terhadap norma hukum pidana dan pelanggaraan terhadap norma-norma kesusilaan yang dilakukan anak remaja, disamping itu mereka juga memandang bahwa delinkuen ini dilakukan oleh offenders (pelaku kejahatan) yang terdiri dari anak (berumur dibawah 21 tahun) yang termasuk yuridiksi pengadilan anak.
Dalam konteks keindonesiaan masalah delinkuen ini telah mendapat pegangan baku dalam aspek yuridis formal. Dalam hukum pidana pengaturannya tersebar dalam beberapa pasal, tetapi pasal akarnya adalah pasal 45, 46, 47 KUHP, sedang dalam KUH Perdata masalah ini diatur dalam pasal 302 dan semua pasal yang ditunjuk dan terkait.
Seorang remaja yang melakukan tindakan-tindakan yang dipandang kriminal oleh masyarakat umum, harus berhadapan dengan pengadilan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya secara hukum positif. Tugas seorang hakim menjadi amat mulia, karena dia harus teliti dan seksama dalam memutuskan apakah seorang anak telah mampu membedakan secara hukum akses dari perbuatannya. Apabila seorang hakim memandang bahwa seorang anak telah mampu membedakan secara hukum, maka hakim memutuskan hukum pidana kepadanya dengan pengurangan 1/3 hukuman pidana biasa atau alternatif lain anak tersebut diserahkan kepada negara untuk di didik tanpa hukuman pidana apapun, tetapi apabila anak tersebut dipandang oleh hakim belum mampu membedakan perbuatannya secara hukum maka anak tersebut dikembalikan kepada orang tua atau wali untuk diasuh tanpa hukuman pidana apapun (Drs. Sudarsono SH; kenakalan remaja, 1995)
Hukuman yang diberikan pada remaja ini dimaknai sesuai dengan tujuan hukuman yaitu melindungi ketertiban umum sebagai usaha untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum. Hukum yang dikenakan bukanlah satu pembalasan dendam, para perilaku delliquen tetaplah manusia, yang satu atau lain hal menyebabkannya terperosok pada lembah perilaku yang salah. Harapan dari hal ini lebih jauh akan menimbulkan kontramotif yang merupakan satu pressing kepada jiwa.
Hak menghukum atau Yuspuniendi berada dalam tangan negara. Negara lewat tangan pengadilan yang bersih adalah satu kekuatan yang mempunyai otoritas. Otoritas ini tidak berhak dimiliki masyarakat, kelompok tertentu apalagi satu sosok individu, karena sebagaimana kekhawatiran Howard B. kaplan dalam patterns of Juvenille delinquency (1984), lingkungan sosial dalam merespon satu tindakan delinkuen ini kadangkala didasarkan pada karakteristik sosial pelakunya, satu tindakan delinkuen dari satu ras atau kelompok sosial tertentu akan lebih mudah dijatuhi hukuman yang keras dibandingkan apabila perbuatan ini dilakukan oleh ras atau kelompok yang lain. Dalam konteks ini perlakuan masyarakat terhadap perilaku delikuen bersifat diskriminatif sebagai olahan atas interpretasi ketidak sukaan terhadap ras atau kelompok sosial tertentu.
Lebih jauh dalam perkembangan kekinian negara adalah pemegang kendali dalam pemasyarakatan. Wacana multikulturalisme yang menawarkan kesetaraan dalam hak, kewajiban dan hukum bagi setiap anggota masyarakat, dengan kata lain negara adalah wadah yang mengakomodir dua hal yang menjadi pandangan krusial: kesetaraan dalam perbedaan sehingga mampu menekan konflk sosial baik horizontal ataupun vertikal yang terjadi dalam masyarakat. Apalagi dalam konteks keindonesiaan yang tingkat heterogenitasnya sangat tinggi. Hal inilah yang membuat kekuasaan mutlak negara memegang peranan penting sebagai penyeimbang atau faktor yang dapat berdiri netral. (Neutral and Balancing Factors)
Upaya Resosialisasi Pelaku Delinkuen
Membuang pelaku delikuen atau menjauhkannya adalah satu tindakan yang tidak bijak ditinjau dari segi manapun, satu kesalahan yang dilakukan remaja tidak berarti menjadikannya seseorang yang dipandang bukan lagi manusia, dia tetap menusia sempurna yang mempunyai hak dan kewajiban sebagai makhluk mulia. Satu hal yang pasti adalah usaha untuk melakukan sosialisasi kembali remaja delinkuen untuk kembali ke lingkungan sosial masyarakatnya mutlak diperlukan. Setidaknya terdapat tiga buah upaya resosialisasi remaja delinkuen:
Yang pertama adalah pendidikan, sebuah upaya untuk menjadikan seorang remaja memahami fungsinya sebagai bagian dari lingkungan sosial, Pendidikan juga berfungsi menanamkan nilai-nilai sosial kemasyarakatan pada diri anak, disamping itu pendidikan mencoba untuk membentuk nilai-nilai remaja agar sesuai dengan nilai-nilai orang dewasa dan mengembangkan keterampilan sosial dan kecakapan sosial. Pendidik memegang peranan penting dalam menyukseskan misi ini, pendidik dipandang sebagai dinamisator dan motivator perkembangan mental remaja, agar sesuai dengan harapan masyarakatnya (The Ideal Society Hope) dengan melaksanakan tugas-tugas perkembangan yang diamanatkan lingkungan sosial kepada para remaja. Pendidik juga berperan dalam membangun sistem kepercayan, penghargaan dan ketetapan yang terjadi dibawah sadar para remaja tentang tindakan yang benar dan yang salah, untuk memastikan satu individu berusaha sesuai dengan harapan masyarakat, hal ini sesuai yang dikatakan Philip G. Zimbardo dalam Psycology and Life ( 1985) tentang nilai-nilai moral (Morality)
Yang kedua adalah mengembangkan dinamika kelompok, Prof. Monk, Prof. Knoers dan DR. Sri Rahayu dalam Psikologi perkembangan (1982) mengatakan masa remaja adalah fase perantara untuk anak dalam memasuki dunia nyata dan menunaikan tugas sosial, mengutip perkataan Futler, yang meninjau dari sudut pandang fenomenologis mereka mengutarakan bahwa masa tingkah laku moral yang sesungguhnya baru akan timbul pada masa remaja sebagai periode masa muda yang harus dihayati untuk dapat mencapai tingkah laku moral yang otonom, eksistensi muda sebagai keseluruhan merupakan masalah moral yang dalam hal ini harus dilihat sebagai hal yang bersangkutan dengan nilai-nilai. Erikson (1964) menambahkan bahwa identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat.
Berdasarkan hal ini maka para remaja sebenarnya memahami nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya dan mampu melaksanakannya untuk kemudian diinternalisasikan menjadi nilai-nilai kepribadian. Perkembangan ke arah ini tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan hanya melalui hubungan dan pergaulan dengan komponen-komponen yang lain. Semua orang tanpa kecuali hidup di beberapa kelompok, mulai dari keluarga, kelompok sebaya, kelas dan kelompok lain-lainya. Setiap kelompok itu mempunyai tujuan-tujuan tertentu, yang kadangkala tercapai tujuannya tetapi kadangkala juga tidak, dalam hal ini kelompok sebaya merupakan perantara yang penting bagi para remaja seperti argumentasi dari Horrocks dan Benimof (1966) dimana kelompok ini merupakan dunia nyata yang menyiapkan panggung dimana remaja dapat menguji diri sendiri dan orang lain, didalam kelompok sebaya remaja merumuskan dan memperbaiki dirinya.
Disinilah ia dinilai oleh orang lain yang sejajar dengan dirinya dan yang tidak memaksakan sangsi-sangsi dunia dewasa yang justru ingin dihindarinya. Kelompok sebaya memberikan sebuah dunia yang dapat melakukan sosialisasi dalam suasana dimana nilai-nilai yang berlaku bukanlah nilai-nilai yang ditetapkan oleh orang dewasa melainkan oleh teman-teman seusianya. Jadi, didalam masyarakat sebaya inilah remaja memperoleh dukungan untuk memperjuangkan emansipasi dan disitu pulalah ia dapat menemukan dunia yang memungkinkannya bertindak sebagai pemimpin apabila ia mampu melakukannya. Kecuali itu, kelompok sebaya merupakan hiburan utama remaja, untuk itulah keterlibatan merupakan suatu hal yang krusial bagi remaja, Karena remaja merupakan bagian dari masyarakat yang hidup didalamnya.
Terkadang memang terjadi ketegangan atau pertentangan antara pribadi remaja dengan masyarakatnya, maka disinilah dinamika kelompok berperan menjembatani remaja dalam memperkuat pribadinya untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Dalam kelompok ini remaja bergaul dengan orang lain, tumbuh menjadi dewasa melalui interaksi dan akhirnya berkembang menjadi manusia yang utuh.
Dan yang ketiga adalah keterampilan, secara psikologis menurut piaget (1969) masa remaja adalah usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurang nya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif. Kurang lebih berhubungan dengan masa puber, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Tranformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkan remaja untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa.
Sebagai anggota masyarakat para remaja memerlukan ketrampilan untuk sandaran masa depan, dengan keterampilan yang dimilikinya diharapkan para remaja memahami perkembangan yang terjadi dalam masyarakatnya dan aktif mendorong kemajuan masyarakatnya, para remaja ini mampu berpartisipasi dan berperan aktif dalam pembangunan. Meluasnya kesempatan untuk melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan dilingkungan sosial menjadikannya memiliki wawasan sosial yang semakin baik, dan bila ini terus berlanjut akan menambah keterampilan dan memperbesar partisipai sosial, ini berarti semakin memperbesar kompetensi sosial remaja yang pada akhirnya akan mengeliminir remaja menjadi kelompok yang pasif (Pasif Community) yang kekosongan waktunya ini dapat membuatnya melampiaskan kekecewaan jiwa pada masyarakatnya.
Penutup
Para remaja pada dasarnya masih mempunyai rentang kehidupan yang jauh, masih ada sisa-sisa zaman yang harus di isi oleh para remaja. Perilakunya merupakan masalah yang kompleks dari interaksi dengan masyarakat, ia merupakan akumulasi dari kompleksitas masalah-masalah sosial masyarakat yang didiaminya. Bahkan secara lebih lanjut adalah perpanjangan dari konflik dan gejolak politik, terlalu naif bila perilaku ini hanya dilimpahkan kepada para remaja dan dunia pendidikan karena banyak aspek yang terkait didalamnya. Kesalahan para pemaja seharusnya tidak lantas melemparkannya dari hakikat-hakikat insaniahnya sebagai makhluk mulia dan bermartabat, upaya penerimaan kembali masyarakat adalah tuntutan obyektif yang tidak mungkin kita nafikan bila prilaku delinkuen ini ingin kita carikan solusi. Karena proses resosialisasi merupakan salah satu kedewasaan masyarakat untuk kembali belajar mendialogkan persoalan ini. Negara sebagai pemegang kebijakan harus bertindak tegas dan bijaksana untuk meredam dan mengeliminir budaya kekerasan yang akhir-akhir ini menjadi eforia di masyarakat Indonesia
*********
Daftar Bacaan:
1. Zimbardo, Philip G, Psycology and life, Scott Foresman and Company, Glen View, Illinois London, England, 1985
2. Monks. Prof, Knoers AMP, Prof. dan Sri Rahayu DR, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press: 1982
3. John B. May, Crime and The Social Structure, faber London : 1983
4. Kartini Kartono DR Patologi Sosial dan Kenakalan Remaja, Grafindo Persada jakarta: 2002




STRATEGI dan PEMBELAJARAN

HAKIKAT PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DI TAMAN KANAK-KANAK
Pengertian Pendidikan dan Komponen-komponen Pendidikan
Dalam arti luas pendidikan adalah segala bentuk pengalaman belajar yang berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk mengembangkan kemampuan seoptimal mungkin sejak lahir sampai akhir hayat. Dalam arti sempit, pendidikan identik dengan persekolahan di mana pendidikan dilakukan dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang terprogram dan terencana secara formal. Pendidikan merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan dan saling berhubungan satu sama lain. Komponen-komponen tersebut meliputi: 1) tujuan pendidikan, 2) peserta didik, 3) pendidik, 4) kurikulum, 5) fasilitas pendidikan, dan 6) interaksi edukatif.
Para ahli pendidikan anak berpendapat bahwa pendidikan TK merupakan pendidikan yang dapat membantu menumbuhkembangkan anak dan pendidikan dapat membantu perkembangan anak secara wajar. Pada hakikatnya pendidikan TK/usia dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan menyediakan kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak. Pendidikan anak usia dini pada hakikatnya adalah upaya untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Hakikat Pembelajaran di Taman Kanak-kanak
Pada hakikatnya anak itu unik, mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan, bersifat aktif dan energik, egosentris, memiliki rasa ingin tahu yang kuat, antusias terhadap banyak hal, bersifat eksploratif dan berjiwa petualang, kaya dengan fantasi, mudah frustrasi, dan memiliki daya perhatian yang pendek. Masa anak merupakan masa belajar yang potensial.
Kurikulum untuk anak usia dini/TK harus benar-benar memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangan dan harus dirancang untuk membuat anak mengembangkan potensi secara utuh. Baik Kurikulum TK 1994 maupun Kurikulum TK 2004 pada dasarnya sama memuat aspek-aspek perkembangan yang dipadukan dalam bidang pengembangan yang utuh yang mencakup bidang pengembangan perilaku melalui pembiasaan dan bidang kemampuan dasar.
Pembelajaran anak usia dini/TK pada hakikatnya adalah pembelajaran yang berorientasi bermain (belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar), pembelajaran yang berorientasi perkembangan yang lebih banyak memberi kesempatan kepada anak untuk dapat belajar dengan cara-cara yang tepat. Pendekatan yang paling tepat adalah pembelajaran yang berpusat pada anak
KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK USIA TK
Hakikat Perkembangan
Perkembangan dan pertumbuhan merupakan satu proses dalam kehidupan manusia yang berlangsung secara terus-menerus sejak masa konsepsi sampai akhir hayat. Perkembangan juga diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh seorang individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik itu menyangkut aspek fisik maupun psikis. Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme. Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan mendalam (meluas) baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis). Berkesinambungan, berarti perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara bertahap dan berurutan.
Perkembangan memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut. 1) Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. 2) Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi. 3) Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. 4) Perkembangan terjadi pada tempat yang berlainan. 5) Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. 6) Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan.
Fase perkembangan dapat diartikan sebagai penahapan atau pembabakan rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laku tertentu. Para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda tentang pembabakan atau periodisasi perkembangan ini. Pendapat-pendapat tersebut secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu berdasarkan analisis biologis, didaktis, dan psikologis.
Karakteristik Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak
Perkembangan anak usia TK yang terentang antara usia empat sampai dengan enam tahun merupakan bagian dari perkembangan manusia secara keseluruhan. Perkembangan pada usia ini mencakup perkembangan fisik dan motorik, kognitif, sosial emosional, serta bahasa.
Ketika anak mencapai tahapan usia TK (3 sampai 6 tahun), terdapat ciri yang sangat berbeda dengan usia bayi. Perbedaannya terletak pada penampilan, proporsi tubuh, berat dan panjang badan, serta keterampilan yang mereka miliki.
Dilihat dari tahapan menurut Piaget, anak usia TK berada pada tahapan praoperasional, yaitu tahapan di mana anak belum menguasai operasi mental secara logis. Periode ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan menggunakan sesuatu untuk mewakili sesuatu yang lain dengan menggunakan simbol-simbol. Melalui kemampuan tersebut anak mampu berimajinasi atau berfantasi tentang berbagai hal.
Perkembangan emosi berhubungan dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada tahap ini emosi anak usia prasekolah lebih rinci atau terdiferensiasi, anak cenderung mengekspresikan emosi dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering mereka perlihatkan dan sering berebut perhatian guru.
Perkembangan sosial adalah perkembangan perilaku anak dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan masyarakat dimana anak itu berada. Perkembangan sosial anak merupakan hasil belajar, bukan hanya sekedar hasil dari kematangan. Perkembangan sosial diperoleh anak melalui kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respons terhadap dirinya. Bagi anak prasekolah, kegiatan bermain menjadikan fungsi sosial anak semakin berkembang.
Anak prasekolah biasanya telah mampu mengembangkan keterampilan bicara melalui percakapan yang dapat memikat orang lain. Mereka dapat menggunakan bahasa dengan berbagai cara seperti bertanya, berdialog, dan menyanyi. Sejak usia dua tahun anak sangat berminat untuk menyebut nama benda. Minat tersebut terus berlangsung sehingga dapat menambah perbendaharaan kata.
PEMBELAJARAN YANG BERORIENTASI PERKEMBANGAN
Prinsip-prinsip Perkembangan Anak
Penyelenggaraan pendidikan Taman Kanak-kanak menuntut pendidik yang memiliki kemampuan profesional, sosial dan pribadi yang baik. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh pendidik atau guru Taman Kanak-kanak adalah memahami perkembangan anak. Pemahaman tentang karakteristik perkembangan anak memberikan kontribusi terhadap pendidik untuk merancang kegiatan, menata lingkungan belajar, mengimplementasikan pembelajaran serta mengevaluasi perkembangan dan belajar anak.
Prinsip-prinsip perkembangan anak meliputi: (1) anak berkembang secara holistik, (2) perkembangan terjadi dalam urutan yang teratur, (3) perkembangan anak berlangsung pada tingkat yang beragam di dalam dan di antara anak, (4) perkembangan baru didasarkan pada perkembangan sebelumnya, (5) perkembangan mempunyai pengaruh yang bersifat kumulatif.
Prinsip-prinsip perkembangan anak tersebut memberikan implikasi bagi pendidik dalam menentukan tujuan, memilih bahan ajar, menentukan strategi, memilih dan menggunakan media, serta mengevaluasi perkembangan dan mendukung belajar anak secara optimal.
Dasar Pemikiran dan Pengertian Pembelajaran yang Berorientasi Perkembangan
Ada beberapa hal yang mendasari munculnya praktik pembelajaran yang berorientasi perkembangan, antara lain meningkatnya praktik pembelajaran yang bersifat formal di lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini, kuatnya tuntutan dan tekanan orang tua dan masyarakat terhadap pengajaran yang lebih bersifat akademik, kesalahpahaman masyarakat tentang konsep pendidikan anak usia dini.
Pembelajaran yang berorientasi perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu (1) berorientasi pada usia, (2) berorientasi pada anak secara individual, dan (3) berorientasi pada konteks sosial budaya anak.
Praktik pembelajaran yang berorientasi perkembangan menekankan pada hal-hal sebagai berikut: (1) anak secara holistik, (2) program pendidikan yang bersifat individual, (3) pentingnya kegiatan yang diprakarsai anak, (4) fleksibel, lingkungan kelas menstimulasi anak, (5) pentingnya bermain sebagai wahana belajar, (6) kurikulum terpadu, (7) belajar melalui bekerja, (8) memberikan pilihan kepada anak tentang apa dan bagaimana caranya belajar, (9) penilaian bersifat kontinu, dan (10) bermitra dengan orang tua untuk mendukung perkembangan dan belajar anak.
Pembelajaran yang Berorientasi Perkembangan Untuk Anak Usia Taman Kanak-kanak
Prinisp-prinsip pembelajaran yang berorientasi perkembangan dapat diidentifikasi dari beberapa dimensi, sebagai berikut.
Menciptakan iklim yang positif dan kondusif untuk belajar.
Membantu keeratan kelompok dan memenuhi kebutuhan individu.
Lingkungan dan jadwal hendaknya memberi kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi aktif, mengambil inisiatif, melakukan eksplorasi terhadap objek dan lingkungannya.
Pengalaman belajar hendaknya dirancang secara konkret dan memberi kesempatan kepada anak untuk memilih kegiatannya sendiri.
Mendorong anak-anak untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan berbahasa secara menyeluruh yang meliputi kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis dini.
Strategi pembelajaran dirancang agar anak dapat berinteraksi dengan anak lainnya secara individual dan dalam kelompok kecil.
Motivasi dan bimbingan diberikan agar anak mengenal lingkungannya, mengembangkan keterampilan sosial, pengendalian dan disiplin diri.
Kurikulum diorganisasikan secara terpadu untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak yang meliputi aspek fisik motorik, sosial emosi, kognitif, bahasa, dan seni.
Penilaian terhadap anak dilakukan secara kontinu, melalui observasi.
Mencatat dan mendokumentasikan hal-hal yang telah dilakukan anak dan cara melakukan kegiatan tersebut.
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Pengertian dan Komponen-komponen Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran adalah rencana yang dibuat oleh guru untuk memproyeksikan kegiatan apa yang akan dilakukan oleh guru dan anak agar tujuan dapat tercapai.
Perencanaan pembelajaran mengandung komponen-komponen yang ditata secara sistematis dimana komponen-komponen tersebut saling berhubungan dan saling ketergantungan satu sama lain.
Komponen-komponen perencanaan pembelajaran meliputi:
Tujuan merupakan komponen pertama dalam perencanaan pembelajaran merupakan proyeksi tentang hasil belajar atau kemampuan yang harus dicapai anak setelah belajar.
Materi adalah bahan yang akan diajarkan agar tujuan tercapai.
Kegiatan belajar mengajar adalah proyeksi kegiatan belajar yang harus dilakukan anak agar tujuan tercapai.
Media dan sumber belajar merupakan salah satu komponen yang memberi dukungan terhadap proses belajar.
Evaluasi merupakan suatu proses memilih, mengumpulkan informasi untuk membuat keputusan. Evaluasi sebagai alat untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan.
Prosedur Penyusunan Perencanaan Pembelajaran
Salah satu tugas guru adalah membuat perencanaan pembelajaran.
Jenis-jenis perencanaan di TK meliputi Perencanaan Tahunan, Perencanaan Semester, Perencanaan Mingguan (SKM), Perencanaan Harian (SKH).
Perencanaan Tahunan, memuat keterampilan, kemampuan, pembiasaan-pembiasaan dan tema-tema yang sesuai dengan minat anak dan dekat dengan lingkungan anak.
Perencanaan semester merupakan penjabaran dari perencanaan tahunan yang dibagi ke dalam dua semester.
Perencanaan Mingguan berisi kegiatan-kegiatan dalam rangka mencapai kemampuan yang telah direncanakan dalam satu minggu sesuai dengan tema pada minggu itu.
Perencanaan Harian (SKH) merupakan perencanaan operasional yang disusun oleh guru dan merupakan acuan dalam melaksanakan pembelajaran. SKH dijabarkan dari SKM.
HAKIKAT STRATEGI PEMBELAJARAN
Konsep Belajar dan Prinsip-prinsip Belajar Anak
Belajar adalah proses perubahan perilaku berdasarkan pengalaman dan latihan. Prinsip-prinsip belajar merupakan suatu ketentuan yang harus dilakukan anak ketika ia belajar.
Anak adalah pebelajar aktif. Ketika bergerak anak mencari stimulasi yang dapat meningkatkan kesempatan untuk belajar. Anak menggunakan seluruh tubuhnya sebagai alat untuk belajar. Anak secara energik mencari cara untuk menghasilkan potensi maksimum.
Belajar anak dipengaruhi kematangan. Guru harus memahami bagaimana kematangan anak dapat dicapai dan apa yang perlu dilakukan untuk memfasilitasi matangan tersebut.
Belajar anak dipengaruhi oleh lingkungan. Tidak hanya lingkungan fisik tetapi juga lingkungan belajar.
Anak belajar melalui kombinasi lingkungan fisik, sosial dan refleksi. Dengan pengalaman tersebut anak memperoleh pengetahuannya. Tugas guru bagaimana menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak memperoleh pengalaman fisik, sosial dan mampu merefleksikannya.
Anak belajar dengan gaya yang berbeda. Ada yang tipe visual, tipe auditif dan tipe kinestetik.
Anak belajar melalui bermain. Melalui bermain anak dapat memahami menciptakan memanipulasi simbol-simbol dan mentransformasi objek-objek tersebut
Variabel Strategi Pembelajaran
Tujuan. Karakteristik tujuan perlu dipertimbangkan dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajran, apakah berkaitan dengan, pengembangan kognitif, bahasa, sosial emosi, fisik, moral agama , motorik.
Tema, tema pembelajaran di TK, meliputi 20 tema, masing-masing tema memiliki karakteristik tersendiri. Dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran karakteristik tema merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan.
Kegiatan. Kegiatan perlu pula dipertimbangakan karena belajar di TK tidak hanya dilaksanakan di dalam kelas tetapi juga ada kegiatan belajar di luar kelas.
Anak. Anak perlu dipertimbangkan, karena anak memilki karakteristik dalam perkembangan dan belajarnya anak itu unik dan memilki potensi untuk belajar.
Media dan Sumber belajar. Media dan sumber belajar yang dipilih harus dapat mendukung terlaksananya proses belajar yang efektif dan relevan dengan strategi pembelajaran yang dipilih guru.
Guru-guru merupakan faktor penentu dalam keberhasilan belajar anak. Kepiawaian guru dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar anak.
PEMILIHAN STRATEGI PEMBELAJARAN
Pengertian dan Kriteria Pemilihan Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah pola umum perbuatan guru dan murid dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar. Strategi pembelajaran adalah segala usaha guru untuk menerapkan berbagai metode pembelajaran dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan demikian strategi pembelajaran menekankan kepada bagaimana aktivitas guru mengajar dan aktivitas anak belajar.
Terdapat beberapa kriteria yang harus menjadi pertimbangan guru dalam memilih strategi pembelajaran, yaitu (1) karakteristik tujuan pembelajaran apakah untuk pengembangan aspek kognitif, aspek afektif atau psikomotor. Atau apakah pembelajaran itu bertujuan untuk mengembangkan domain fisik-motorik, kognitif, sosial emosi, bahasa, dan estetika; (2) karakteristik anak sebagai peserta didik baik usianya maupun kemampuannya; (3) karakteristik tempat yang akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran apakah di luar atau di dalam ruangan; (4) karakteristik tema atau bahan ajar yang akan disajikan kepada anak; dan (5) karakteristik pola kegiatan yang akan digunakan apakah melalui pengarahan langsung, semi kreatif atau kreatif.
Semua kriteria ini memberikan implikasi bagi guru untuk memilih stratgei pembelajaran yang paling tepat digunakan di Taman Kanak-kanak
Karakteristik Cara Belajar Anak
Anak belajar dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa. Beberapa karakteristik cara belajar anak itu antara lain (1) anak belajar melalui bermain; (2) anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya; (3) anak belajar secara alamiah, dan (4) anak belajar paling baik jika yang dipelajarinya menyeluruh, bermakna, menarik, dan fungsional.
Bermain sebagai salah satu cara belajar anak memiliki ciri-ciri simbolik, bermakna, aktif, menyenangkan, suka rela, ditentukan oleh aturan, dan episodik.
Para ahli teori konstruktivisme mempunyai pandangan tentang cara belajar anak yaitu bahwa anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya melalui kegiatan mengeksplorasi objek-objek dan peristiwa yang ada di lingkungannya dan melalui interaksi sosial dan pembelajaran dengan orang dewasa.
Lingkungan yang diciptakan secara kondusif akan mengundang anak untuk belajar secara alamiah tanpa paksaan sehingga apa yang dipelajari anak dari lingkungannya adalah hal-hal yang benar-benar bermakna, fungsional, menarik dan bersifat menyeluruh.
JENIS-JENIS STRATEGI PEMBELAJARAN DI TAMAN KANAK-KANAK
Jenis-jenis Strategi Pembelajaran Umum di Taman Kanak-kanak
Ada beberapa jenis strategi pembelajaran umum yang dapat digunakan di Taman Kanak-kanak. Strategi pembelajaran tersebut pada umumnya lebih menekankan pada aktivitas anak dalam belajar, namun, tidak berarti peranan guru pasif. Guru harus berperan sebagai fasilitator yang dapat memberikan kemudahan dan kelancaran kepada anak dalam proses belajar.
Jenis-jenis strategi pembelajaran umum tersebut adalah: (1) meningkatkan keterlibatan indra, (2) mempersiapkan isyarat lingkungan, (3) analisis tugas, (4) scaffolding, (5) praktik terbimbing, (6) undangan/ajakan, (7) refleksi tingkah laku/tindakan, (8) refleksi kata-kata, (9) contoh atau modelling, (10) penghargaan efektif), (11) menceritakan/menjelaskan/menginformasikan, (12) do-it-signal, (13) tantangan, (14) pertanyaan, dan (15) kesenyapan.
Strategi-strategi pembelajaran tersebut dapat diintegrasikan atau digabungkan dalam keseluruhan proses pembelajaran, sehingga tercipta kegiatan belajar yang lebih bervariasi.
Strategi Pembelajaran Khusus di Taman Kanak-kanak
Terdapat beberapa jenis strategi pembelajaran khusus yang dapat diterapkan di Taman Kanak-kanak. Penerapan strategi pembelajaran khusus tersebut pada prinsipnya sama dengan penerapan strategi pembelajaran umum, yaitu harus mempertimbangkan karakteristik tujuan, karakteristik anak dan cara belajarnya, karakteristik tempat yang akan digunakan, dan pola kegiatan.
Jenis-jenis strategi pembelajaran khusus tersebut adalah (1) kegiatan eeksploratori, (2) Penemuan Terbimbing, (3) Pemecahan Masalah, (4) Diskusi, (5) Belajar Kooperatif, (6) Demonstrasi, dan (7) Pengajaran Langsung.
Di samping strategi pembelajaran di atas, guru Taman Kanak-kanak dituntut untuk dapat menggunakan strategi pembelajaran lainnya sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik.
PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN YANG BERPUSAT PADA ANAK
Rasional Pembelajaran yang Berpusat pada Anak
Anak pada hakikatnya memiliki potensi untuk aktif dan berkembang. Pembelajaran yang berpusat pada anak banyak diwarnai paham konstruktivis yang dimotori Piaget dan Vigotsky.
Anak adalah pembangun aktif pengetahuannya sendiri. Mereka membangun pengetahuannya ketika berinteraksi dengan objek, benda, lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Yang melandasi pembelajaran yang berpusat pada anak adalah pendekatan perkembangan dan pendekatan belajar aktif.
Belajar aktif merupakan proses dimana anak usia dini mengeksplorasi lingkungan melalui mengamati, meneliti, menyimak, menggerakkan badan mereka menyentuh, mencium, meraba dan membuat sesuatu terjadi dengan objek-objek di sekitar mereka.
Pembelajaran yang berpusat pada anak memiliki karakteristik sebagai berikut: 1) prakarsa kegiatan tumbuh dari minat dan keinginan anak, 2) Anak-anak memilh bahan dan memutuskan apa yang ingin ia kerjakan, 3) Anak mengekspresikan bahan-bahan secara aktif dengan seluruh indranya, 4) Anak menemukan sebab akibat melalui pengalaman langsung, 5) Anak mentransformasikan dan menggabungkan bahan-bahan, 6) Anak menggunakan otot kasarnya, 7) Anak menceritakan pengalamannya.
Prosedur Pembelajaran yang Berpusat pada Anak
Pembelajaran yang berpusat pada anak harus direncanakan dan diupayakan dengan matang. Upaya yang dilakukan adalah dengan merencanakan dan menyediakan bahan/peralatan yang dapat mendukung perkembangan dan belajar anak secara komprehensif. Untuk itu perlu disediakan area-area yang memungkinkan berbagai kegiatan sesuai pilihannya.
Area- area tersebut meliputi:
Area Pasir dan Air.
Area Balok.
Area Rumah dan Bermain Drama.
Area Seni.
Area Manipulatif.
Area Membaca dan menulis.
Area pertukangan atau kerja Kayu.
Area musik dan gerak.
Area komputer.
Area bermain di luar ruangan.
Pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada anak meliputi: tahap perencanaan, tahap bekerja dan tahap melaporkan kembali.
Contoh Penerapan Pembelajaran yang Berpusat pada Anak
Plan Do Review, merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak. Dalam pendekatan ini anak diberi kesempatan untuk melakukan sesuai dengan minat dan keinginannya, mulai dari membuat perencanaan, (Plan), mengerjakan (Do), dan melaporkan kembali (Review).
Prosedur pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:
Tahap merencanakan (Planning Time).
Pada tahap ini anak diberi kesempatan untuk membuat rencana dari kegiatan yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Tahap Bekerja (Work Time).
Tahap ini adalah tahap dimana anak bermain dan memecahkan masalah. Anak mentransformasikan rencana ke dalam tindakan.
Tahap Review (Recall).
Tahap ini merupakan tahap memperlihatkan apa yang telah dilakukan anak pada tahap bekerja.
PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN MELALUI BERMAIN
Rasional Strategi Pembelajaran melalui Bermain
Bermain merupakan suatu kegiatan yang melekat pada dunia anak. Bermain adalah kodrat anak. Bermain dapat dipandang sebagai suatu kegiatan yang bersifat voluntir, spontan, terfokus pada proses, memberi ganjaran secara intrinsik, meyenangkan dan fleksibel.

Kriteria dalam kegiatan bermain adalah memotivasi intrinsik, memiliki pengaruh positif, bukan dikerjakan sambil lalu. Cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya, serta bermain memiliki kelenturan.
Fungsi bermain bagai anak TK adalah: Menirukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata. Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata.
Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang nyata. Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng. Untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima seperti berperan sebagai pencuri. Untuk kilas balik peran-peran yang biasa dilakukan seperti gosok gigi. Untuk kilas balik peran-peran yang biasa dilakukan seperti gosok gigi, serta untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaian masalah.
Ditinjau dari dimensi perkembangan sosial, bermain digolongkan sebagai berikut: bermain soliter, bermain secara paralel, bermain asosiatif, dan bermain secara kooperatif.
Prosedur Pelaksanaan Pembelajaran melalui Bermain Anak
Rancangan kegiatan bermain meliputi penentuan tujuan dan tema kegiatan bermain; macam kegiatan bermain; tempat dan ruang bermain; bahan dan peralatan bermain; dan urutan langkah bermain.
Tujuan kegiatan bermain bagi anak usia TK adalah untuk meningkatkan pengembangan seluruh aspek perkembangan anak usia TK, baik perkembangan motorik, kognitif, bahasa, kreativitas, emosi atau sosial. Kegiatan bermain akan memberikan hasil yang optimal apabila kegiatan itu dirancang dengan saksama dan tidak secara kebetulan. Tema yang akan dipilih dapat mengacu pada 20 tema yang terdapat dalam PKB TK 1994.
Menentukan jenis kegiatan bermain yang akan dipilih sangat tergantung kepada tujuan dan tema yang telah ditetapkan sebelumnya. Penentuan jenis kegiatan bermain diikuti dengan jumlah peserta kegiatan bermain. Selanjutnya ditentukan tempat dan ruang bermain yang akan digunakan, apakah di dalam atau di luar ruangan kelas, hal itu sepenuhnya tergantung pada jenis permainan yang dipilih.
Sebelum melakukan kegiatan bermain, bermacam bahan dan peralatan yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai perlu dipersiapkan terlebih dahulu secara lengkap. Langkah berikutnya adalah menentukan urutan langkah bermain yang disertai dengan penetapan kegiatan yang harus dilaksanakan oleh setiap peserta permainan.
Contoh Penerapan Pembelajaran melalui Bermain
Pelaksanaan kegiatan bermain terdiri dari tiga kegiatan yaitu:
Kegiatan prabermain
Kegiatan bermain
Kegiatan penutup
Pada kegiatan prabermain, terdapat dua macam kegiatan persiapan, yaitu:
Kegiatan penyiapan siswa dalam melaksanakan kegiatan bermain
Kegiatan penyiapan bahan dan peralatan yang siap untuk dipergunakan dalam kegiatan bermain
Tahap bermain terdiri dari rangkaian kegiatan yang berurutan dari awal sampai dengan akhir kegiatan bermain. Banyaknya kegiatan pada tahap bermain sangat tergantung pada jenis permainan yang dipilih, serta jumlah anak yang mengikuti permainan.
Kegiatan penutup merupakan kegiatan akhir dari seluruh langkah kegiatan bermain. Pada kegiatan ini, guru memberikan penekanan pada aspek-aspek yang sepatutnya dikembangkan dan dimiliki oleh anak seperti, menunggu giliran, kemampuan bekerja sama, kemampuan memecahkan masalah dan sebagainya.
Evaluasi atau penilaian perlu dilaksanakan agar guru mendapatkan umpan balik tentang keberhasilan kegiatan bermain. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan kegiatan bermain yang telah ditetapkan sebelumnya
. PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN MELALUI BERCERITA
Rasional Strategi Pembelajaran melalui Bercerita
Metode bercerita merupakan salah satu metode yang banyak dipergunakan di Taman Kanak-kanak. Metode bercerita merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak TK dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang dibawakan guru harus menarik, dan mengundang perhatian anak dan tidak lepas dari tujuan pendidikan bagi anak TK.
Penggunaan bercerita sebagai salah satu strategi pembelajaran di Taman Kanak-kanak haruslah memperhatikan hal-hal berikut:
Isi cerita harus terkait dengan dunia kehidupan anak TK.
Kegiatan bercerita diusahakan dapat memberikan perasaan gembira, lucu, dan mengasyikkan sesuai dengan dunia kehidupan anak yang penuh suka cita
Kegiatan bercerita harus diusahakan menjadi pengalaman bagi anak TK yang bersifat unik dan menarik.
Beberapa macam teknik bercerita yang dapat dipergunakan antara lain guru dapat membaca langsung dari buku, menggunakan ilustrasi dari buku gambar, menggunakan papan flannel, menggunakan boneka, bermain peran dalam suatu cerita, atau bercerita dengan menggunakan jari-jari tangan.
Bercerita sebaiknya dilakukan dalam kelompok kecil untuk memudahkan guru mengontrol kegiatan yang berlangsung sehingga akan berjalan lebih efektif. Selain itu tempat duduk pun harus diatur sedemikian rupa, misalnya berbentuk lingkaran sehingga akan terjalin komunikasi yang lebih efektif.
Prosedur Penerapan Pembelajaran melalui Bercerita
Kegiatan bercerita merupakan kegiatan yang memiliki manfaat besar bagi perkembangan anak serta pencapaian tujuan pendidikan. Sebelum melaksanakan kegiatan bercerita guru terlebih dahulu harus merancang kegiatan bercerita berupa langkah-langkah yang harus ditempuh secara sistematis.
Langkah-langkah yang harus ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut:
Menetapkan tujuan dan tema cerita.
Menetapkan bentuk bercerita yang dipilih.
Menetapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita.
Menetapkan rancangan langkah-langkah kegiatan bercerita.
mengkomunikasikan tujuan dan tema cerita;
mengatur tempat duduk;
melaksanakan kegiatan pembukaan;
mengembangkan cerita;
menetapkan teknik bertutur;
mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.
Menetapkan rancangan penilaian kegiatan bercerita.

Penerapan Strategi Pembelajaran melalui Bercerita
Penerapan strategi pembelajaran melalui bercerita mengacu pada prosedur pembelajaran yang telah dikembangkan sebelumnya, yaitu:
Menetapkan tujuan dan tema cerita.
Menetapkan bentuk bercerita yang dipilih.
Menetapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita.
Menetapkan rancangan langkah-langkah kegiatan bercerita:
mengkomunikasikan tujuan dan tema cerita;
mengatur tempat duduk;
melaksanakan kegiatan pembukaan;
mengembangkan cerita;
menetapkan teknik bertutur;
mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.
Menetapkan rancangan penilaian kegiatan bercerita.
Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan bercerita serta tema yang dipilih oleh guru menjadi acuan dalam melaksanakan kegiatan lainnya. Guru memiliki kebebasan untuk menentukan bentuk cerita yang dipilih, sepanjang bisa menggambarkan isi cerita dengan baik. Bahan dan alat yang dipergunakan dalam kegiatan bercerita sangat bergantung kepada bentuk cerita yang dipilih sebelumnya.
Pengaturan tempat duduk, merupakan hal yang patut mendapat perhatian karena pengaturan yang baik membuat anak merasa nyaman dan dapat mengikuti cerita di samping teknik bercerita, dan teknik








1 komentar:

  1. tolong donk masukkan juga referensi tulisannyabuku apa saja..

    BalasHapus